Usaha-usaha Yang Dilakukan Dalam Meningkatkan Produktivitas Kerja


Produktivitas dihasilkan melalui perpaduan antara prestasi kerja dan teknologi yang digunakan, kedua variabel selalu mendukung dan mempengaruhi.

Lalu variabel apa yang mempengaruhi prestasi ? prestasi kerja dihasilkan oleh perpaduan antara kemampuan (Ability) dan kemauan (Motivasi). Cara meningkatkan “kemampuan” tentunya adalah dengan merekrut orang yang sudah mampu atau melatih yang sudah ada.

Masalah peningkatan produktivitas kerja dapat dilihat sebagai masalah keprilakuan, tetapi juga dapat mengandung aspek teknis, untuk mengatasi masalah itu perlu pemahan yang tepat tentang usaha-usaha penentu keberhasilan meningkatkan produktivitas menurut Sondang P. Siagian (2002:10) diantaranya sebagai berikut :

  1. Perbaikan terus menerus (perubahan strategi organisasi, perubahan dalam pemanfaatan teknologi).

  2. Peningkatan mutu hasil pekerjaan

  3. Pemberdayaan sumber daya manusi

Ada beberapa faktor yang menentukan besar kecilnya produktivitas suatu instansi menurut Ambar Teguh Sulistiani dan Rosidah (2003:200), antara lain :

    1. Knowledge

    2. Skills

    3. Abillities

    4. Attitude

    5. Behavior


Pengetahuan dan keterampilan yang sesungguhnya yang mendasari pencapaian produktivitas. Ada beberapa substansial antara kemampuan dan keterampilan. Konsep pengetahuan berorientasi pada integelensi, daya fikir dan penguasaan ilmu serta luas sempitnya wawasan yang dimiliki seseorang. Dan selain itu ditunjang oleh kemampuan, sikap dan tingkah laku.

READMORE....!!

PERILAKU ORGANISASI

BAB I

PENDAHULUAN


Organisasi merupakan kumpulan dari beberapa orang bahwa kelompok semua orang atau kelompok dalam sebuah organisasi sudah pasti memiliki tujuan dan pandangan masing-masing dari kerjanya dalam organisasi. Mereka bersaing untuk mencapai kepentingannya masing-masing dalam organisasi tersebut. Hal ini juga ditandai dengan perbedaan yang ada mengenai segala macam sifat daam anggota organisasi.

Perbedaan-perbedaan yang ada akan menimbulkan perselisihan paham antara para anggota organisasi. Perselisihan paham ini dinamakan konflik. Konflik ini bisa muncul secara terus menerus apabila manajer dalam organisasi tersebut tidak bisa menciptakan situasi sepaham dalam semua anggota organisasi. Konflik tidak dapat dihindari dalam suatu organisasi karena disebabkan oleh perbedaan-perbedaan yang datangnya dari dalam sifat manusia. Sifat manusia ini bukanlah hal yang dengan mudah bisa diubah.

Munculnya konflik dalam sebuah organisasi tidak selalu bersifat negatif. Konflik bisa dijadikan alasan untuk mengadakan perubahan dalam keorganisasian. Perubahan ini dapat terjadi apabila manajer mengadakan evaluasi terhadap perbedaan pandangan antar elemen-elemen organisasi. Evaluasi ini bisa menimbulkan berbagai kesimpulan dan ditemukannya cara-cara baru untuk memecahkan masalah-masalah yang timbul akibat dari konflik yang terjadi. Penemuan cara-cara baru ini dapat memperbaiki pengambilan keputusan. Apabila konflik yang ada bisa dikembangkan menjadi hal tadi maka munculnya konflik bisa berdampak positif terhadap organisasi.

Akan tetapi, apabila munculnya konflik menyebabkan adanya diskusi-diskusi panjang tanpa menemukan kata sepakat antara para anggota organisasi dan tidak adanya prioritas-prioritas keorganisasian maka konflik berdampak negatif terhadap organisasi. Hal ini bisa menyebabkan organisasi dalam keadaan terpuruk dan penghambatan dalam pengambilan keputusan aktual.

Oleh karena hal-hal diatas, maka organisasi membutuhkan para manajer yang terampil dan profesional. Para manajer harus mampu mengenali situasi-situasi yang mengarah pada konflik. Para manajer harus bisa menjadikan konflik yang sudah terlanjur muncul menjadi berdampak positif pada organisasi. Sehingga pada akhirnya tercapainya tujuan-tujuan organisasi menjadi prioritas.

BAB II

KONFLIK ORGANISASI


2.1 Tingkat-tingkat Konflik

Prof. Dr. J. Winardi, SE. dalam bukunya “Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen” menyebutkan bahwa konflik terbagi menjadi beberapa tingkatan berikut ini:

  1. Konflik intra perorangan

Konflik ini muncul dalam diri seorang individu dengan pemikirannya sendiri. Jadi dia mengalami semacam tekanan-tekanan dalam dirinya sendiri secara emosional.

Konflik ini bisa disebabkan karena adanya konflik pendekatan-pendekatan, maksudnya si individu ini harus memilih salah satu dari dua hal yang sama menariknya bagi dia. Contohnya seseorang mempunyai pilihan menerima promosi naik jabatan di kantor yang sekarang atau menerima tawaran kerja di perusahaan lain dengan jabatan baik dan penghasilan sama dengan jabatan yang sedang dipromosikan.

Konflik intra perorangan juga bisa disebabkan karena seseorang harus memilih dua pilihan yang sama sekali tidak disukainya. Apabila terjadi hal ini maka orang tersebut sedang mengalami konflik menghindari-menghindari.

Konflik intra perorangan bisa berbentuk pendekatan-menghindari. Jadi konflik ini terjadi pada situasi ketika seseorang harus mengambil suatu keputusan yang sangat menyenangkan tetapi ada peningkatan resiko yang tidak disukai.


  1. Konflik Antar Perorangan

Konflik antar perorangan terjadi antara satu individu dengan individu lain atau lebih. Konflik ini biasanya disebabkan oleh adanya perbedaan sifat dan perilaku setiap orang dalam organisasi. Hal ini biasanya pernah dialami oleh setiap anggota organisasi baik hanya dirasakan sendiri maupun ditunjukkan dengan sikap. Misalnya seorang manajer pemasaran merasa tidak senang dengan hasil kerja manajer produksi. Akan tetapi perasaan ini tidak selalu dilakukan secara terbuka tapi bisa juga secara diam-diam. Apabila ini berlangsung lebih lama, bisa menyebabkan ketidak selarasan dalam pengambilan keputusan.


  1. Konflik antar kelompok

Tingkat lainnya dalam konflik di organisasi adalah konflik antar kelompok. Seperti diketahui bahwa sebuah organisasi terbentuk dari beberapa kelompok kerja yang terdiri dari banyak unit. Apabila diantara unit-unit disuatu kelompok mengalami pertentangan dengan unit-unit dari kelompok lain maka manajer merupakan pihak yang harus bisa menjadi penghubung antara keduanya. Hubungan pertentangan ini apabila dipertahankan maka akan menjadi koordinasi dan integrasi kegiatan-kegiatan menjadi sulit.


  1. Konflik antar keorganisasian

Konflik juga bisa terjadi antara organisasi yang satu dengan yang lain. Hal ini tidak selalu disebabkan oleh persaingan dari perusahaan-perusahaan di pasar yang sama. Konflik ini bisa terjadi karena adanya ketidak cocokan suaut badan terhadap kinerja suatu organisasi.

Sebagai contoh badan serikat pekerja di cocok dengan perlakuan suatu perusahaan terhadap pekerja yang menjadi anggota serikatnya. Konflik ini dimulai dari ketidak sesuaian antara para manajer sebagai individu yang mewakili organisasi secara total. Pada situasi konflik seperti ini para manajer tingkat menengah kebawah bisa berperan sebagai penghubung-penghubung dengan pihak luar yang berhubungan dengan bidangnya.

Apabila konflik ini bisa diselesaikan dengan prioritas keorganisasian atau perbaikan pada kegiatan organisasi, maka konflik-konflik bisa dijadikan perbaikan demi kemajuan organisasi.



2.2 Sebab-sebab Konflik

2.2.1 Persaingan Terhadap Sumber-sumber Daya yang Langka

Setiap divisi dalam organisasi akan berlomba-lomba untuk mendapatkan bagian dari alokasi sumber-sumber daya yang ada. Masing-masing menginginkan alokasi sumberdaya yang banyak agar bisa mempercepat pertumbuhan, kemajuan dan pengembangan dalam divisinya. Karena adanya persaingan ini maka akan memicu timbulnya konflik. Konflik ini bisa timbul akibat dari ketersediaan sumber daya yang langka.


2.2.2 Ketergantungan Tugas (Interdependence)

Dalam organisasi sudah pasti adanya ketergantungan antara dua individu atau kelompok untuk mencapai kesuksesan dalam tugas-tugasnya. Apabila diantara dua pihak ini ada perbedaan prioritas, kemungkinan munculnya konflik akan semakin besar. Hal ini juga bisa disebabkan oleh keinginan dari kedua belah pihak untuk bisa mencapai otonomi tanpa harus bergantung pada pihak lain.

Semakin perbedaan ini dipertahankan maka kemungkinan konflik juga akan berlangsung lebih besar bahkan lama. Konflik ini biasanya muncul antara dua departemen yang saling bergantung dan sangat terspesialisasi.


2.2.3 Kekaburan Batas-batas Bidang Kerja

Konflik mungkin sekali muncul apabila bidang kerja dalam organisasi tidak jelas. Hal ini akan menciptakan suatu kondisi dimana ada seseorang yang mendominasi dalam bagiannya. Apabila ada sebuah keberhasilan maka dia akan merasa dan menunjukkan seolah-olah itu hanya hasil kerjanya sendiri. Akan tetapi apabila ada kesalahan maka dia akan mengalihkannya pada orang lain. Konflik juga bisa terjadi apabila ada seseorang yang hanya ingin mengerjakan hal-hal yang disukainya sedangkan yang tidak disukainya akan diserahkan pada orang lain. Pada hakekatnya masing-masing akan merasa yang paling penting dalam kegiatan organisasi.


2.2.4 Kriteria Kinerja yang Tidak Sesuai

Konflik semacam ini disebabkan oleh adanya imbalan atas kemajuan suatu divisi oleh perusahaan. Konflik bisa muncul apabila kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap sub unit-sub unit yang berbeda.

Sebagai contoh bagian penjualan menuntut bagian produksi untuk dapat meningkatkan penjualan akan tetapi hal sebaliknya terjadi terhadap bagian produksi. Bagian produksi harus menerima hukuman dengan tidak mendapat bonus karena adanya peningkatan biaya produksi.

Peningkatan biaya produksi ini disebabkan oleh bagian produksi harus menambah jam kerja karyawannya untuk dapat memproduksi secara banyak dan cepat. Dapat di tebak apa yang akan timbul, sudah pasti akan ada konflik antara bagian produksi dengan penjualan.


2.2.5 Perbedaan-perbedaan Tujuan dan Prioritas

Konflik juga bisa disebabkan oleh adanya usaha-usaha masing-masing sub unit untuk mencapai tujuannya masing-masing. Hal ini bisa tumbuh menjadi konflik apabila ada ketidak sesuaian antar tujuan masing-masing, bahkan usaha pencapaian tujuan suatu sub unit dapat menghalangi sub unit lain dalam mencapai tujuannya.


2.3 Situasi-situasi Konflik Dalam Organisasi

2.3.1 Tipe-tipe Situasi Konflik

Tipe situasi konflik perlu dikenali oleh manajer guna mengurangi potensi untuk timbulnya konflik. Tipe-tipe tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Konflik vertikal, adalah konflik yang terjadi antara atasan dengan bawahannya atau sebaliknya.

  2. Konflik horizontal, adalah konflik yang terjadi antara sesama karyawan atau kelompok yang beroperasi tingkatan hirarki yang sama.

  3. Konflik garis staf. Adalah konflik yang terjadi antara para wakil garis dengan staf. Hal ini disebabkan oleh adanya potensi personil staf untuk mempengaruhi bidang-bidang operasi garis sehingga apabila ada ketidak sepakatan antara mereka akan memicu konflik dengan frekuensi tertentu.

  4. Konflik peranan, adalah konflik yang terjadi apabila komunikasi ekspektansi-ekspentasi tugas dari para anggota penentu peran ternyata tidak cukup atau tidak kompetibel bagi pemegang peranan. Dibawah ini diberikan keterangan mengenai 6 tipe konflik peranan:

  • Konflik intra pengirim, timbul karena adanya pemberian sejumlah tugas yang tidak sesuai satu sama lainnya.

  • Konflik antar pengirim, timbul akibat adanya benturan antara perintah-perintah dari satu pihak dengan perintah-perintah dari pihak lain.

  • Konflik orang peranan, timbul karena adanya pertentangan antara tuntutan-tuntutan peranan dengan kebutuhan dan nilai-nilai dari orang bersangkutan.

  • Konflik karena beban kerja yang berlebihan

  • Ambiguitas peranan, timbul disebabkan oleh informasi tentang tanggung jawab yang kurang lengkap atau tidak jelas.


2.3.2 Fase-fase Konflik

Ada 3 (tiga) macam fase dalam perkembangan pemikiran tentang konflik-konflik di dalam organisasi. Adapun fase-fase yang dimaksud:

  1. Fase klasik

Dalam fase klasik di pandang bahwa konflik bisa muncul tapi bersifat sementara dan harus diselesaikan oleh pihak manajemen menurut pandangan pihak manajemen tersebut. Fase klasik juga meyakini bahwa apabila diberi waktu dan manajemen baik, konflik akan dapat dihilangkan secara sempurna.

  1. Fase hubungan antar manusia

Fase hubungan antar manusia mengakui bahwa konflik itu ada tapi bisa dihindari dan perlu diatasi. Konflik berhubungan dengan para pengacau, para primadona dan sebagainya. Fase ini menyatakan bahwa konflik itu buruk, dan damai itu baik.


  1. Fase Kontemporer

Pandangan komtemporer menyatakan bahwa konflik adalah hal tidak dapat dihindari dari kehidupan organisasi. Konflik bukanlah hal yang baik tapi juga bukan hal yang buruk. Konflik merupakan kenyataan hidup yang harus dipahami bukan ditentang.


BAB III

MANAJEMEN KONFLIK



Seperti halnya telah dikemukakan di muka bahwa konflik tidak selalu berdampak negatif tapi juga berdampak positif. Dampak apapun yang akan timbul tergantung pada bagaimana konflik tersebut di manaje.

Memanaje konflik berarti kita harus meyakini bahwa konflik juga mempunyai peranan dalam rangka pencapaian sasasaran-sasaran secara efisien dan efektif. Memanaje konflik penting dilakukan bahwa dijadikan prioritas penting karena apabila tidak di manaje secara baik, konflik akan menyebabkan kekacauan dalam koordinasi dan integrasi antara fungsi-fungsi dan dividi-divisi yang ada.

Sebelum menentukan metode apa yang akan digunakan untuk memanaje konflik, harus diketahui terlebih dahulu sumber penyebab terjadinya konflik tersebut. Untuk mencari penyebab konflik akan bisa dilakukan dengan baik karena konflik berhubungan dengan perilaku terbuka.

Ada tiga hal pokok yang perlu ditekankan sehubungan dengan persoalan konflik, sebagai berikut:

  1. Konflik berkaitan dengan perilaku terbuka

Konflik bisa muncul karena adanya ketidak setujuan antara individu dan kelompok yang dibiarkan memuncak. Pada situasi ini para manajer perlu melaksanakan intervensi mereka sebelum terjadinya konflik.

  1. Konfik muncul karena ada dua persepsi yang berbeda

  2. Adanya perilaku yang dilakukan secara sadar dilakukan oleh satu pihak untuk menghalangi tujuan pihak lain.


3.1 Aneka Macam Gaya Manajeme Konflik

Ada macam-macam label deskriptif untuk lima macam gaya, sebagai berikut:

  1. Gaya pesaing

Gaya bersaing berorientasi pada kekuasaan, dan konflik dihadapi dengan strategi menang/kalah. Pada sisi negatif, seorang pesaing mungkin melakukan tekanan, intimidasi bahkan paksaan kepada pihak-pihak lain yang terlibat dalam konflik. Pada sisi positif, gaya bersaingan demikian mungkin diperlukan apabila dituntut adanya suatu tindakan desisif cepat, atau apabila perlu dilaksanakan tindakan-tindakan penting yang tidak bersifat populer.

  1. Manajer yang menghindari diri dari konflik

Gaya memanaje konflik dengan menghindarkan diri dari konflik cenderung kearah bersikap netral sewaktu adanya keharusan untuk mengambil posisi atau sikap tertentu. Gaya ini dapat diterapkan apabila konflik yang terjadi tidak berdampak terlalu banyak terhadap efektivitas manajerial. Tindakan ini tepat untuk mengurangi ketegangan yang terjadi.

  1. Akomodator

Gaya akomodator menghendaki konflik diselesaikan tanpa masing-masing pihak yang terlibat dalam konflik, menyajikan pandangan-pandangan mereka dengan keras dan berarti. Gaya ini bermanfaat apabila sebuah konflik lebih penting bagi orang lainnya, memberikan pengalaman dan perasaan menang bagi orang lain, dan menjadikan orang tersebut lebih reseptif tentang persoalan lain yang lebih penting.

  1. Manajemen yang Menekankan Kompromi

Gaya manajemen ini adalah gaya yang paling realitas yang dapat memberikan hasil dalam jangka waktu yang disediakan untuk menyelesaikan konflik. Apabila dalam kompromi para partisipan turut berbagi dalam kondisi kemenangan maupun kekalahan, maka ini merupakan variasi dari strategi “menang-menang”. Akan tetapi apabila kompromi dilakukan untuk melunakkan persoalan dan menggerogoti kepercayaan diantara pihak yang berkonflik, maka ini mendekati strategi “kalah-kalah”.

  1. Kolaborator

Gaya manajemen konflik ini bisa dilakukan apabila pihak-pihak yang berkonflik merumuskan kembali persoalannya dan kemudian dicari pemecahannya. Manajemen konflik gaya ini perlu dilakukan apabila persoalan-persoalan yang menimbulkan konfli penting bagi kedua belah pihak yang berkonflik. Maka dari itu sekalipun sulit dan membutuhkan biaya-biaya besar tetap harus diupayakan.


3.2 Metode-metode Manajemen Konflik

3.2.1 Metode Stimulasi Konflik

Metode ini dilakukan dengan keyakinan bahwa konflik juga memiliki dampak positif dalam organisasi. Metode ini beranggapan konflik dapat menimbulkan dinamika dan pencapaian cara-cara yang lebih baik dalam pelaksanaan kegiatan kerja suatu kelompok. Manajer perlu merangsang timbulnya persaingan dan konflik yang dapat mempunyai efek penggembelangan.

Adapun cara-cara yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Memasukkan dan menempatkan orang luar kedalam kelompok

  2. Menyusun kembali organisasi

  3. Menawarkan bonus, membayar insentif dan penghargaan untuk pendorong persaingan

  4. Memilih manajer-manajer yang tepat

  5. Memberikan perlakuan yang berbeda dengan biasanya.


3.2.2 Metode Pengurangan Konflik

Artinya adalah mengelola konflik dengan mendinginkan suasana tetapi tidak menangani masalah-masalah penyebab konflik. Metode ini bisa dilakukan dengan seperti berikut:

  1. Mengadakan kontak sosial yang menyenangkan antara kelompok-kelompok dengan makan bersama atau liburan bersama.

  2. Mengganti tujuan yang menimbulkan konflik dengan tujuan yang lebih biasa dierima kedua kelompok.

  3. Mempersatukan kedua kelompok yang berkonflik untuk menghadapi musuh atau ancaman yang sama. Cara ini bisa dilakukan dengan memberikan informasi positif tentang kelompok yang berhadapan dengan mereka sehingga mereka akan bernegosiasi untuk menghadapi.


3.2.3 Metode Penyelesaian Konflik

Metode-metode yang digunakan dalam penyelesaian konflik adalah sebagai berikut:

  1. Dominasi dan penekanan, cara-caranya adalah dengan perincian dibawah ini:

  • Memaksakan atau kekerasan yang bersifat penekanan otokratik. Ketaatan harus dilakukan oleh pihak yang kalah kepada otoritas lebih tinggi atau kekuatan lebih besar.

  • Meredakan atau menenangkan, metode ini lebih terasa diplomatik dan manajer membujuk salah satu pihak untuk mengalah dalam upaya menekan dan meminimasi ketidak sepahaman. Cara ini berisiko ada pihak yang merasa ada yang di anakmaskan oleh manajer.

  • Menghindari, cara ini menuntut manajer untuk tidak ada pada satu posisi tertentu. Manajer berpura-pura bahwa tidak terjadi konflik dan mengulur-ulur waktu sampai mendapat lebih banyak informasi tentang hal tersebut. Apabila manajer memilih cara ini maka tidak akan ada pihak yang merasa puas.

  • Penyelesaian melalui suara terbanyak, menyelesaikan konflik dengan melakukan pemungutan suara. Resikonya pihak yang akan merasa dirinya lemah tanpa kekuatan dan mengalami frustasi.


  1. Kompromi

Dalam metode ini manajer mencoba untuk mencari jalan tengah dengan meyakinkan para pihak yang berkonflik untuk mengorbankan sasaran-sasaran tertentu. Hal ini dilakukan untuk memperoleh sasaran-sasaran lain yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang berkonflik.

Cara-cara yang biasanya dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Pemisahan, pihak-pihak yang sedang berkonflik di pisahkan sampai menemukan solusi atas masalah mereka.

  • Arbitrasi atau pewasitan, adanya peran orang ketiga biasanya sang manajer diminta pendapatnya untuk menyelesaikan masalah

  • Kembali ke peraturan-peraturan yang berlaku ketika tidak ditemukan titik temu antara kedua belah pihak.

  • Ada juga yang melakukan tindakan penyuapan yang dilakukan oleh salah satu pihak kepada pihak lain yang terlibat konflik untuk mengakhiri konflik.


  1. Pemecahan masalah integratif

Metode ini dilakukan secara bersama untuk terbuka demi ditemukannya sebuah pemecahan yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Metode ini menggunakan 3 pendekatan metode, sebagai berikut:

  • Konsensus

Dalam metode ini tidak akan ada pihak yang menang karena kedua belah pihak sengaja dipertemukan untuk mencapai solusi terbaik bukan yang hanya menyelesaikan masalah dengan cepat.

  • Konfrontasi

Semua pihak yang berkonflik mengeluarkan pandangan mereka masing-masing secara langsung dan terbuka. Hal ini dilakukan untuk menemukan alasan-alasan terjadinya konflik untuk dicari penyelesaiannya secara terbuka. Metode ini membutuhkan kepemimpinan yang terampil untuk memperoleh solusi yang rasional.

  • Penentu tujuan-tujuan yang lebih tinggi


3.3 Hasil-hasil yang Dicapai Dari Konflik

3.3.1 Hasil-hasil Positif

  1. Tingkat energi kelompok-kelompok antar individu-individu meningkat yang memberikan peningkatan pada output dan muncunya ide-ide inovatif untuk melaksanakan tugas lebih baik.

  2. Koehesivitas kelompok meningkat yang kemudian meningkatkan produktivitas kelompok apabila menunjang tujuan-tujuan manajemen.

  3. Terungkapnya problem-problem sewaktu terjadi konflik

  4. Memotivasi kelompok-kelompok yang terlibat didalamnya untuk mengklasifikasi sasaran-sasaran mereka.

  5. Merangsang kelompok-kelompok untuk memperatahankan nilai-nilai yang dianggap penting oleh mereka.

  6. Individu-individu atau kelompok-kelompok termotivasi untuk mempersatukan informasi yang relevan bagi konflik yang ada.

  7. Konflik dapat meningkatkan efektivitas menyeluruh sesuatu organisasi karena kelompok-kelompok atau individu-individu dipaksa olehnya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan eksternal yang berubah.


3.3.2 Hasil-hasil Negatif


  1. Terjadinya penyusutan dalam komunikasi antara pihak yang berkonflik

  2. Sikap bermusuhan dan pengembangan agresi

  3. Konformitas berlebihan terhadap tuntutan-tuntutan kelompok

BAB IV

SIMPULAN



Konflik merupakan hal yang tidak bisa dihindari dalam sebuah organisasi hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang pada intinya karena organisasi terbentuk dari banyak individu dan kelompok yang sudah pasti memiliki sifat dan tujuan-tujuan yang berbeda satu sama lain.

Konflik bisa terjadi baik dengan dirinya individu sendiri maupun dengan individu yang lain atau dengan kelompok lain. Selain dari sisi individu konflik juga bisa terjadi antara kelompok bahkan antar organisasi.

Konflik bisa terjadi pada situasi atasan dengan bawahan, sesama karyawan, antara staf dengan garis peranan juga antar perintah yang datang dari dua pihak yang saling berbenturan.

Karena konflik merupakan hal yang kerap kali muncul dan tidak dapat dihindari maka perlu adanya suatu manajemen yang mengelola konflik agar tidak terjadi meluas dan lebih banyak mengeluarkan dampak positifnya.

Konflik tidak selalu menimbulkan dampak negatif tapi juga bisa menimbulkan dampak positif. Oleh karena itu dalam manajemen konflik diperlukan adanya gaya dan metode yang dapat digunakan baik untuk menstimulasi, mengurangi maupun menyelesaikan konflik. Sekali pun pada dasarnya metode-metode yang telah dikemukakan tidak selalu berhasil dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA




Handoko, T. Hani. Manajemen, Edisi Kedua. BPFE: Yogyakarta. 2000.


Wexley, Kenneth. M. And Gary A. Yuki. Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia. Rineka Cipta: Jakarta 2005.


Winardi. J., Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen. Rajawali Pers: Jakarta. 2002.

__________ Teori organisasi dan Pengorganisasian, Rajawali Pers: Jakarta 2003.


READMORE....!!

EMPAT KETERAMPILAN BERBAHASA

  1. Menyimak

Adalah suatu proses mendengarkan lambang-lambang bahasa lisan dengan sungguh-sungguh penuh perhatian, pemahaman, apresiatif yang dapat disertai dengan pemahaman makna, komunikasi yang disampaikan secara non verbal.

    • Hubungan menyimak dengan berbicara

Yaitu, merupakan komunikasi 2 arah/tatap muka secara langsung

    • Hubungan menyimak dengan membaca

Keduanya bersifat reseptif (menerima)

    • Hubungan menyimak dengan menulis

Menyimak dapat menumbuhkan kreativitas menulis


  1. Berbicara

Adalah suatu proses penyampaian pesan dari sumber kepada penerima melalui media.

    • Hubungan berbicara dengan menyimak

Berbicara dan menyimak merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung, merupakan komunikasi tatap muka.

    • Hubungan berbicara dengan membaca

Kemampuan umum berbahasa lisan memiliki pengaruh yang besar dalam melatarbelakangi pengalaman-pengalaman yang berarti dan keterampilan-keterampilan bagi pengajaran membaca.

    • Hubungan antara berbicara dengan menulis

Seorang pembicara yang baik biasanya memerlukan persiapan tertulis. Dengan adanya persiapan dalam bentuk tulisan, seorang pembaca akan menjadi mudah memaparkan isi, perasaan, pikiran, ide, pendapat, dan pesan kepada orang lain.


  1. Membaca

Rudolf Flesch memandang membaca sebagai kegiatan memperoleh makna dari berbagai gabungan huruf. Membaca juga sebagai alat utama yang harus dimulai orang yang menghendaki kehidupan yang baik. Membaca merupakan jantungnya pendidikan.


  1. Menulis

Merupakan kegiatan menuangkan pikiran, ide, gagasan melalui rangkaian huruf yang menjadi kata yang kemudian disusun menjadi sebuah kalimat yang utuh.


READMORE....!!

ANALISIS ASPEK PSIKOLOGIS ANAK DALAM NOVEL A CHILD IT KARYA DAVE PELZER

BAB I

PENDAHULUAN





  1. Latar Belakang Masalah

Anak adalah amanah dan karunia Tuhan YME, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Oleh karena itu, anak juga memiliki hak asasi manusia yang diakui oleh masyarakat bangsa-bangsa di dunuia dan merupakan landasan bagi kemerdekaan, keadilan dan perdamaian diseluruh dunia. Diakui dalam masa pertumbuhan secara fisik dan mental, anak membutuhkan perawatan, perlindungan yang khusus, serta perlindungan hukum baik sebelum maupun sesudah lahir. Disamping itu, patut diakui bahwa keluarga merupakan lingkungan alami bagi pertumbuhan dan kesejahteraan anak. Dan bahwa untuk perkembangan kepribadian anak secara utuh dan serasi membutuhkan lingkungan keluarga yang bahagia, penuh kasih sayang dan pengertian. Negara Indonesia sebagai negara anggota PBB yang tidak menyatakan diri sebagai negara anggota PBB yang telah menyatakan diri sebagai negara pihak konvensi PBB tentang Hak Anak (convention on the rights of the chilid) sejak Agustus 1990, dengan demikian menyatakan keterkaitannya untuk menghormati dan menjamin hak anak tanpa diskriminasi dalam wilayah hukum Republik Indonesia. Dan diperkuat dengan dikeluarkannya Undang-undang No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak. Namun pada kenyataannya, masih banyak anak yang dilanggar haknya, dan menjadi korban dari berbagai bentuk tindak kekerasan, eksploitasi, perlakuan salah, diskriminasi bahkan tindakan yang tidak manusiawi terhadap anak, tanpa ia dapat melindungi dirinya, dan tanpa perlindungan yang memadai dari keluarganya, masyarakat, dan pemerintah.

Masalah kekerasan pada anak baik fisik maupun psikis yang terjadi di Indonesia memang sangat memprihatinkan. Dalam setiap kasus yang ada, mayoritas korbannya adalah anak-anak yang berusia di bawah 8 tahun. Hal ini banyak mengundang simpati masyarakat Indonesia. Upaya perlindungan anak perlu dilaksanakan sedini mungkin, yakni sejak dari janin dalam kandungan sampai anak berumur 18 (delapan belas) tahun. Bertitik tolak dari konsepsi perlindungan anak yang utuh, menyeluruh, dan komperhensif. Undang-undang ini melibatkan kewajiban memberikan perlindungan kepada anak berdasarkan asas-asas sebagai berikut :

  1. Nondiskriminasi;

  2. Kepentingan yang terbaik bagi anak;

  3. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan

  4. Penghargaan terhadap pendapat anak.

Dalam melakukan pembinaan, pengembangan dan perlindungan anak, perlu peran masyarakat, baik melalui lembaga perlindungan anak, lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial, dunia usaha, media massa, atau lembaga pendidikan.



  1. Identifikasi Masalah

Kekerasan fisik baik psikis pada anak dan kerawanan-kerawanan serta pelanggaran hak anak sudah saatnya menuntut perhatian semua pihak secara sungguh-sungguh, karena selain mengancam kelangsungan hidup, juga mengancam ketahanan sosial yang pada gilirannya berkembang menjadi ketahanan nasional sebagai suatu bangsa.

Masalah yang dapat diidentifikasi penulis sebagai berikut :

    1. Mengapa kekerasan baik secara fisik maupun psikis pada anak diseluruh dunia semakin meningkat?

    2. Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya kekerasan baik secara fisik maupun psikis pada anak?

    3. Apakah dengan mengalami kekerasan fisik dan psikis pada anak dapat menimbulkan trauma yang berkepanjangan?

    4. Dampak apa sajakah yang dapat terjadi pada anak, yang mengalami kekerasan baik secara fisik maupun psikis?

    5. Langkah apa sajakah yang sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia khususnya, untuk menghentikan kekerasan baik fisik maupun psikis pada anak?


  1. Fokus

Untuk meneliti seluruh identifikasi masalah di atas memerlukan suatu usaha dari peneliti, jika peneliti memiliki keterbatasan-keterbatasan kemampuan maka penelitian hanya akan dibatasi pada :

  1. Dampak apa sajakah yang dapat terjadi pada anak, yang mengalami kekerasan baik secara fisik maupun psikis?

  2. langkah apa saja yang sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia khususnya, untuk menghentikan kekerasan baik fisik maupun psikis pada anak?

Subfokus

Berdasarkan identifikasi masalah, batasan masalah yang telah ditulis di atas, maka penulis merumuskan masalahnya yaitu “Suatu Analisis Novel Dave Pelzer Psikologis Perkembangan Anak yang mengalami Kekerasan Baik Secara Fisik maupun Psikis”.


  1. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

  1. Untuk memeroleh bahan-bahan dan data yang berguna dalam penyusunan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memenuhi kewajiban dalam menyelesaikan studi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan.

  2. Berdasarkan penelitian ini diharapkan akan dapat menghasilkan hal-hal yang bermanfaat, yaitu :

    1. Untuk memeroleh pengetahuan yang mendalam mengenai tindak kekerasan baik fisik maupun psikis pada anak

    2. Untuk mengetahui dampak apa saja yang terjadi pada anak, yang mengalami kekerasan baik fisik maupun psikis.


  1. Tinjaun Teori

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua (1995 : 792) pengertian psikologis adalah berkenaan dengan psikologi dan bersifat kejiwaan. Jadi, psikologis anak adalah ilmu yang berkaitan dengan proses-proses mental baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada perilaku anak atau ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa pada anak.

Di indonesia kekerasan pada fisik maupun psikis yang terjadi pada anak semakin meningkat. Mencermati permasalahan anak yang membutuhkan perhatian yang serius dari semua pihak baik keluarga, atau prakarsa departemen sosial RI, Tokoh masyarakat, perguruan tinggi, organisasi non-pemerintah dan pemerintah, media massa dan kalangan profesi serta dukungan UNICEF pada tanggal 26 Oktober 1998 dibentuklah Komisi Nasional Perlindungan Anak. Bersamaan dibentuknya Komnas Perlindungan Anak, Forum Nasional memberikan mandat kepada Komnas perlindungan Anak untuk melakukan serangkaian kegiatan/program perlindungan anak termasuk memperkuat mekanisme nasional untuk mewujudkan situasi dari kondisi yang kondusif bagi perlindungan anak demi masa depan yang lebih baik. Program yang dimandatkan forum nasional tersebut adalah program pemantapan lembaga perlindungan anak, program pendidikan dan pelatihan, bantuan hukum dan konseling serta program penguatan kelembagaan/program kerja tehnis.

Diberlakukanya UU No. 32/2002 tentang perlindungan anak seolah menjadi anti klimaks dari banyak aktivis perlindungan anak. Padahal UU ini saja tidak cukup untuk menurunkan tingkat kejadian kekerasan pada anak. UU ini juga belum dapat diharapkan untuk mempunyai efek deteran karena belum banyak dikenal oleh aparat maupun masyarakat. Oleh karena itu, kekerasan terhadap anak akan tetap berlanjut dan jumlah kejadiannya tidak akan menurun karena sikon hidup saat ini sangat sulit dan kesulitan ekonomi akan memicu berbagai ketegangan dalam rumah tangga yang akan merugikan pihak-pihak yang paling lemah dalam keluarga itu. Anak adalah pihak yang paling lemah dibanding anggota keluarga yang lain.


  1. Metode dan Teknik Penelitian

Untuk dapat mengetahui dan membahas suatu permasalahan maka diperlukan adanya pendekatan dengan mempergunakan metode-metode tertentu yang bersifat ilmiah. Metode penelitian yang digunakan penulisan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

        1. Spesifikasi Penelitian

Spesifikasi penelitian ini dilakukan secra deskriptip analitis berupa penggambaran, penelaahan dan penganalisaan, metode ini memiliki tujuan untuk memberikan gambaran yang sistematis, faktual serta akurat dari objek penelitian itu sendiri.


        1. Jenis Data dan Variabel

Jenis data yang dikumpulkan berupa data yang bersifat kualitatif yang terdiri dari data sekunder. Data sekunder diambil dari membaca buku dan literatur lainnya yang terdiri atas :

          1. Novel A Child called It, Karya Dave Pelzer.

          2. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang dilengkapi dengan Kepres nomor 77 tahun 2003 tentang komisi nasional perlindungan anak.

          3. Manhak pendidikan anak muslim.

          4. Data dari internet.


        1. Teknik Pengumpulan Data

          1. Teknik observasi, yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap anak yang mengalami kekerasan baik fisik maupun psikis.

          2. Teknik kepustakaan, yaitu dengan membaca buku yang berkaitan dan berhubungan dengan psikologis anak.


  1. Data dan Sumber Data


Sesuai dengan masalah yang diselidiki dalam penelitian ini, maka yang menjadi sumber data adalah novel A Child Challed it yang penulis tetapkan sebagai data, dan sumber data dari penelitian ini adalah psikologis perkembangan anak yang mengalami kekerasan baik fisik maupun psikis.


  1. Daftar Pustaka

Kridalaksana, Harimurti. 1995. Kamus Besar bahasa Indonesia, Edisi Kedua.

Cetakan Ketujuh. Jakarta : Perum Babai Pustaka.


Musthafa, Asy, Syaikhfuhaim. 2004. Manhaj Pendidikan Anak Muslim.

Cetakan Pertama. Jakarta : Mustaqim


Pelzer, Dave .2001. A Child Cailed It. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.




READMORE....!!

Sistem Pendidikan Nasional

UNDANG-UNDANG NO 20 TAHUN 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Struktur
UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

  • Terdiri atas 22 bab dan 77 pasal

  • Bab I Ketentuan Umum

  • Bab II Dasar, Fungsi, dan Tujuan

  • Bab III Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan

  • Bab IV Hak dan Kewajiban Warga Negara, Orang tua, Masyarakat, dan Pemerintah.

Lanjutan

  • Bab V Peserta Didik

  • Bab VI Jalur, Jenjang, dan Jenis Pendidikan

  • Bab VII Bahasa Pengantar

  • Bab VIII Wajib Belajar

Lanjutan

  • Bab IX Standar Nasional Pendidikan

  • Bab X Kurikulum

  • Bab XI Pendidik dan Tenaga Kependidikan

  • Bab XII Sarana dan Prasarana Pendidikan

  • Bab XIII Pendanaan Pendidikan

  • Bab XIV Pengelolaan Pendidikan

  • Bab XV Peranserta Masyarakat Dalam Pendidikan

Lanjutan

  • Bab XVI Evaluasi, Akreditasi, dan Sertifikasi

  • Bab XVII Pedirian Satuan Pendidikan

  • Bab XVIII Peyelengaraan Pendidikan oleh Lembaga Negara Lain.

  • Bab XIX Pengawasan

  • Bab XX Ketentuan Pidana

  • Bab XXI Ketentuan Peralihan

  • Bab XXII Ketentuan Penutup

Jalur Pendidikan
PASAL 13/UU.SPN.NO.20/2003

Jenjang Pendidikan
PASAL 14/UU.SPN. NO.20/2003

Jenis Pendidikan
PASAL 15/UU.SPN.NO.20/2003

Pasal 13

  • Ayat (2)

  • Pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselengarakan dengan system terbuka melalui tatap muka dan/atau melalui jarak jauh.

Pasal 17

  • Ayat (2)

  • Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

Pasal 18

Ayat (3)

Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah ( MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau berbentuk lain yang sederajat.

Pasal 20

  • Ayat (1)

Perguruan Tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institute, atau universitas.

Pasal 22

  • Universitas, institute, dan sekolah tinggi yang memiliki program doctor berhak memberikan gelar doctor kehormatan (doctor honoris causa) kepada setiap individu yang layak memperoleh penghargaan berkenaan dengan jasa-jasa yang luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, kemasyarakatan, keagamaan, kebudayaan, atau seni.

Pasal 23

  • Ayat (1)

  • Pada Universitas, institute, dan sekolah tinggi dapat diangkat guru besar atau professor sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

  • Ayat (2)

  • Sebutan guru besar atau professor hanya dipergunakan selama yang bersangkutan masih aktif bekerja sebagai pendidik di perguruan tinggi.

Lanjutan

  • Gelar Profesor atau guru besar seperti yang dimaksud dalam pasal 23 ayat (1) merupakan jabatan fungsional bagi dosen yang masih mengajar dilingkungan perguruan tinggi.

Pendanaan Pendidikan

  • Dalam pendanaan pendidikan UU no 20 tahun 2003 mengatur dengan empat pasal yaitu pasal 46, 47, 48, dan 49

  • Pendanaan pendidikan dimasukkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah. Alokasi pendanaan pendidikan menurut pasal 49 ayat (1) minimal 20% dari APBN dan APBD. Untuk pemenuhan pendanaan pendidikan dapat dilakukan secara bertahap.

Sumber Pendanaan Pendidikan

  • Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat

  • Pemerintah berupa alokasi APBN

  • Pemerintah Daerah berupa alokasi APBD

  • Masyarakat berupa sumbangan pendidikan, hibah, wakaf, zakat, pembayaran nazar, pinjaman, sumbangan perusahaan, keringanan dan penghapusan pajak untuk pendidikan serta penerimaan lain yang sah menurut perundang-undangan


Prinsip Pendanaan Pendidikan

  • Sumber pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan.

  • Pengelolaanya berdasarkan prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas public, seperti yang diatur pada pasal 47 dan 48 UU no 20 tahun 2003.

Ketentuan Pidana

  • Ketentuan pidana dalam hal pendidikan diatur dalam pasal 67, 68, 69. 70, dan 71. Ketentuan pidana ini ditujukan untuk perorangan, organisasi, atau penyelenggara pendidikan

lanjutan

  • Pelanggaran dalam hak pemberian ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi dan/atau vokasi yang dilakukan oleh perorangan, organisasi, atau penyelenggara pendidikan akan diancam pidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda satu milyard rupiah (pasal 67: ayat 1)

lanjutan

Ancaman bagi perguruan tinggi yang telah dinyatakan ditutup tetapi masih terus beroperasi akan dikenakan pidana 10 tahun penjara dan/atau denda satu milyard rupiah. (Pasal 67: ayat 2)

lanjutan

Pemberian sebutan guru besar atau professor yang dilakukan oleh perguruan tinggi yang dinyatakan tidak sah menurut undang-undang dan/ atau telah melanggar pasal 23 ayat (1) UU no 20 tahun 2003 akan diancam pidana 10 tahun penjara dan/atau denda satu milyard rupiah. (Pasal 67: ayat 3)

lanjutan

Pendidikan jarak jauh yang dilakukan oleh penyelenggara pendidikan yang tidak memenuhi ketentuan pasal 31 ayat (3) UU no 20 tahun 2003 diancam dengan pidana 10 tahun penjara dan/atau denda satu milyard rupiah. . (Pasal 67: ayat 4)

lanjutan

  • Selanjutnya pelanggaran yang dilakukan perorangan dalam hal membantu, memberikan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi dari satuan pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan diancam dengan penjara 5 tahun dan/atau denda 500 juta rupiah.

lanjutan

  • Orang yang mengunakan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi dari satuan pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan diancam dengan penjara 5 tahun dan/atau denda 500 juta rupiah. (pasal 68 ayat (2), pasal 69 ayat (1)&(2)).

lanjutan

  • Setiap orang yang menggunakan singkatan gelar lulusan yang tidak sesuai dengan bentuk singkatan yang diterima dari perguruan tinggi yang bersangkutan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat (40 diancam pidana 2 tahun penjara dan/atau denda 200 juta rupiah. (pasal 68 ayat (2), pasal 69 ayat (1)&(2)).

lanjutan

  • Setiap orang yang menggunakan dan memperoleh sebutan guru besar atau professor yang tidak sesuai dengan pasal 23 ayat (1) diancam dengan pidana 5 tahun penjara dan/atau dengan 500 juta rupiah.

lanjutan



  • Pengunaan karya ilmiah sebagai hasil jiplakan atau plagiat untuk memperoleh gelar akademik, profesi, atau vokasi sebagaimana diatur pasal 25 ayat (2) dan terbukti jiplakan dipidana 2 tahun penjara dan/atau denda 200 juta rupiah (Pasal 70) serta pencabutan gelar yang telah diperolehnya


lanjutan

  • Peyelenggaraan satuan pendidikan yang didirikan tanpa izin dari pemerintah atau pemerintah daerah seperti dimaksud pasal 62 ayat (1) dipidana penjara 10 tahun dan/atau denda 1 milyar rupiah.


READMORE....!!

Pembelajaran Morfofonemik dengan Menggunakan Teknik Inkuiri pada Siswa Kelas 2 SMU Bayah Tahun Pelajaran 2005/2006

BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah

Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dewasa ini belum menampakkan hasil yang memuaskan. Hal ini terbukti dari seringnya terungkap dalam berbagai media cetak tentang rendahnya mutu pengajaran bahasa Indonesia.

Kegagalan dan keberhasilan pengajaran di sekolah-sekolah tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktomya adalah faktor tujuan. Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia harus diarahkan pada aspek-aspek keterampilan berbahasa. Aspek-aspek keterampilan berbahasa tersebut meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis.

Berbicara mengenai aspek-aspek keterampilan berbahasa, maka pembicaraan tersebut tidak lepas dari tujuan pengajaran bahasa secara umum. Oleh karena itu, tujuan pengajaran bahasa Indonesia tidak semata-mata mengajarkan siswa agar menguasai ilmu bahasa, akan tetapi harus diajarkan bagaimana seorang siswa terampil berbahasa. Dengan demikian, berbahasa berarti belajar kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia lisan maupun tulisan (Tarigan, 1995:32).

Berdasarkan hasil pengarnatan penulis, ada beberapa hal yang diamanatkan dalam kuriikulum, yakni perbandingan bobot pembelajaran bahasa dan sastra sebaiknya seimbang dan dapat disajikan secara terpadu, misalnya wacana sastra dapat sekaligus dipakai sebagai bahan pembelajaran bahasa (Depdikbud, 1994:3). Hal itu membuktikan bahwa pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bukanlah suatu pembelajaran yang harus diajarkan terpisah-pisah, tetapi suatu pembelajaran yang terpadu.

Seorang guru bahasa Indonesia mempunyai tanggung jawab ganda, yaitu membina kemampuan menyampaikan dan menerima pesan baik lisan maupun tulisan. Sementara itu, bentuk aktivitas lain yang terlihat dalam proses belajar, akhimya akan terkait dengan mengembangkan kemampuan menulis. Hal itu sesuai dengan pendapat Rahmanto (1988:111) yang menyatakan, bahwa dalam proses belajar bahasa dan sastra, akhimya terkait juga dengan mengembangkan kemampuan menulis ekspresif dan kreatif

Tulisan yang baik menuntut suatu penyajian pokok persoalan yang jelas, pengungkapan ide-ide secara teratur, dan pola pembentukan kata sebagai dasar menyusun kalimat yang baik. Tulisan tersebut akan baik jika pemahaman terhadap morfofonemiknya baik. Dengan demikian, untuk latihan menulis, hendaknya memahaini pola pembentukan kata terlebih dahulu melalul morfofonemik.

Morfofonemik merupakan proses berubahnya fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal atau fonem yang mendahuluinya. Perubahan fonem itu sesuai dengan fonem bentuk dasar yang dilekatinya dan perubahan morfofonemik memegang peranan penting dalam proses pembentukan kalimat yang baik, terutama dalam pembentukan kata tulis.

Telaah morfofonemik dalam sebuah wacana dimaksudkan untuk mengetahul apakah proses pembentukan kata yang dibuat para siswa sudah sesuai dengan ketentuan atau belum. Oleh karena itu, telaah ini memiliki peranan penting dalam rangka meningkatkan keterampilan berbahasa, sehingga dengan kemampuan dan pengalaman yang kita miliki, kita dapat menganalisis pola bentukan kata yang dibuat para siswa dan dapat memberikan kontribusi dalam pembelajaran struktur.

Hal yang perlu dipertegas dalam telaah morfofonemik pada karangan siswa, yakni untuk menemukan pola bentukan kata, kontruksi kalimat, dan struktur bahasanya. Dengan demikian, penelitian ini cukup representatif jika dianalisis mengingat penelitian ini mengutamakan kecermatan siswa dalam menentukan kata dan pola pembentukan kata yang dipakai. Sekaitan dengan itu penulis mengajukan judul: Pembelajaran Morfofonemik dengan Menggunakan Teknik Inkuiri pada Siswa Kelas 2 SMU Bayah Tahun Pelajaran 2005/2006.


1.2 Perumusan dan Pembatasan Masalah

1.2.1 Perumusan Masalah

Untuk mencapai tujuan penelitian yang tepat dan terarah, maka penulis membuat rumusan penelitian ini sebagai berikut:

  1. Mampukah penulis mengajarkan morfofonemik dengan menggunakan teknik inkuiri pada karangan siswa Kelas 2 SMU 1 Bayah?

  2. Berhasilkah siswa Kelas 2 SMU 1 Bayah belajar morfofonemik melalui teknik inkuiri ?

  3. Tepatkah teknik inkuiri digunakan dalam mengajarkan morf'ofonemik pada karangan siswa kelas 2 SMU 1 Bayah?


1.2.2 Pembatasan Masalah

Berdasarkan uraian masalah di atas, ruang lingkup permasalahan penelitian dibatasi pada hal-hal berikut:

  1. Pembelajaran morfofonemik didasarkan pada hasil penernuan pola pernbentukan kata melalui teks yang telah disediakan sebelumnya.

  2. Morfofonemik yang diteliti terbatas pada prefiks.

  3. Metode yang dipakai adalah metode penugasan dengan teknik inkuiri.


1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

13.1 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian berkaitan dengan rumusan masalah, yakni mengungkapkan secara jelas permasalahan yang diteliti. Secara lengkap penelitian ini bertujuan untuk:

  1. mengetahui kemampuan penulis mengajarkan morfofonemik dengan menggunakan tekiilk inkuiri pada karangan siswa Kelas 2 SMU 1Bayah

  2. mengetahui keberhasilan siswa Kelas 2 SMU 1 Bayah dalam Belajar morfofonemik melalui teknik inkuin;

  3. ingin mengetahui ketepatan teknik inkuiri digunakan dalam mengajarkan morfofonemik pada karangan siswa kelas 2 SMU1 Bayah.


1.3.2 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengajaran bahasa Indonesia umumnya, khususnya dapat meningkatkan pengajaran Sastra Indonesia.

Secara khusus manfaat yang ingin didapatkan dari penelitian ini sebagai berikut:

  1. Bagi peneliti, hasil penelitian ini memberikan pengalaman yang berharga tentang pembelajaran morfofonemik dalam karangan dengan menggunakan teknik inkuiri.

  2. Bagi guru, hasil penelitian ini dijadikan salah satu alternatif bahan pembelajaran pembentukan kata morfofonemik yang diterapkan dalam karangan.


1.4 Anggapan Dasar dan Hipotesis

1.4.1 Anggapan Dasar

Pada hakikatnya, anggapan dasar atau postulat merupakan sebuah titik tolak pemikiran yang tingkat akseptabilitasnya tidak diragukan oleh peneliti (Anikunto 1992:55). Pada penelitian ini tercakup beberapa anggapan dasar yang digunakan sebagai berikut:

  1. Penulis telah menyelesaikan mata kuliah MKDK dan mata kuliah keahlian selama delapan semester, sehingga diduga mampu melaksanakan pernbelajaran.

  2. Pembelajaran morfofonemik merupakan materi yang tercantum dalarn GBPP bahasa Indonesia SMU berdasarkan Kurikulum 1994.

  3. Teknik inkuiri dapat meningkatkan kegiatan belajar siswa, sehingga siswa aktif, tekun, giat dan mandiri dalam belajar.


1.4.2 Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian. Yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

  1. Penulis mampu mengajarkan morfofonemik dengan menggunakan teknik inkuiri pada karangan siswa Kelas 2 SMU 1 Bayah.

  2. Siswa Kelas 2 SMU 1 Bayah berhasil dengan baik belajar morfofonemik melalui teknik inkuiri.

  3. Teknik inkuiri dapat digunakan dalam mengajarkan morfofonemik pada karangan siswa Kelas 2 SMU 1 Bayah.


1.5 Metode dan Teknik Penelitian

1.5.1 Metode Penelitian

Metode yang terbaik untuk meneliti suatu hal ialah metode yang dapat memberikan hasil yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Metode yang penulis pergunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik.

Metode deskriptif analitik adalah metode yang digunakan untuk mengumpulkan data analitik dan menganalisa data hasil pembelajaran morfofonemik dengan menggunakan teknik inkuiri yang memusatkan pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang. Data yang terkumpul disusun, kemudian dijelaskan dan disimpulkan (Surakhmad, 1982:140).


1.5.2 Teknik Penelitian

Untuk memperoleh data, penulis menggunakan beberapa teknik penelitian sebagai berikut:

  1. Studi Kepustakaan

Teknik ini penulis gunakan untuk melengkapi pengetahuan dengan membaca dan menelaah buku-buku yang berkaitan dengan masalah-masalah yang diteliti.

  1. Observassi

Teknik observasi penulis gunakan dengan cara mengadakan pengamalan tentang keadaan sekolah yang akan digunakan sebagai tempat penelitian.

  1. Teknik Uji Coba

Uji coba merupakan kegiatan penulis dalam mengajarkan morfofonemik dengan menggunakan teknik inkuiri pada karangan siswa.

  1. Teknik Tes

Teknik ini digunakan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar mengejar pembelajaran morfofonemik.

  1. Teknik Analisis

Teknik ini digunakan untuk melakukan analisis data yang diperoleh dari hasil penelitian.


1.6 Populasi dan Sampel

1.6.1 Populasi

Populasi adalah sejumlah individu atau subyek yang terdapat di dalam kelompok tertentu yang dapat dijadikan sebagai sumber data. Adapun sebagian yang diambil dari populasi adalah sampel (Surakhmad, 1980: 93.).

Populasi yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah kernampuan penulis dalam mengajarkan struktur kata dengan menggunakan teknik inkuiri pada siswa Kelas 2 SMU 1 Bayah.

Adapun yang dijadikan penelitian, yaitu populasi siswa kelas 2 berikut ini

No

Kelas

Jumlah siswa

Keterangan

1.

2.

3.

4.

5.




Jumlah




1.6.2 Sampel

Bertitik tolak dari populasi di atas, penulis menetapkan sampel untuk penelitian ini adalah kemampuan penulis dalam mengajarkan morfofonemik dengan menggunakan teknik inkuiri pada siswa Kelas II.1 SMU 1 Bayah yang berumlah 40 orang.

Sampel siswa ditentukan dengan teknik random undi bagi kelas II.1 sampai 11.5. Penulis memilih satu kelas yang akan dijadikan sampel penelitian.


1.7 Definisi Operasional

Secara operasional, istilah-istilah yang terdapat dalam judul penelitian ini dapat didefinisikan sebagai berikut:

  1. Uji coba adalah pengujian sesuatu sebelum dipakai atau dilaksanakan untuk mengetahui kwalitas sesuatu.

  2. Pembelajaran morfofonenik adalah suatu kegiatan belajar mengajar dalam rangka interaksi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan berupa proses berubahnya fonem menjadi fonern lain sesuai dengan fonem awal atau fonem yang mendahuluinya proses berubahnya fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal atau fonem yang mendahuluinya.

  3. Teknik inkuiri adalah cara belajar yang lebih menekankan kegiatan yang berpusat kepada siswa sebagai subjek belajar untuk menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari.


Berdasarkan definisi istilah di atas, maka judul penelitian ini mengandung pengertian suatu pengujian sesuatu sebelum dipakai atau dilaksanakan untuk mengetahui kwalitas belajar mengajar dalarn rangka interaksi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan berupa proses berubahnya fonern menjadi fonern lain sesuai dengan fonern awal atau fonern yang mendahuluinya proses berubahnya fonern menjadi fonem lain sesuai dengan fonern awal atau fonern yang mendahuluinya melalui cara belajar yang lebih menekankan kegiatan yang berpusat kepada siswa sebagai subjek belajar.


READMORE....!!

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja


Banyaknya faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja, baik yang berhubungan tenaga kerja maupun yang berhubungan dengan lingkungan perusahaan dan kebijaksanaan pemerintah secara keseluruhan.

Menurut balai pengembangan produktivitas daerah yang dikutip oleh Soedarmayanti bahwa ada enam faktor ytama yang menentukan produktivitas tenaga kerja, adalah :

  1. Sikap kerja, seperti : kesediaan untuk bekerja secara bergiliran (shift work) dapat menerima tambahan tugas dan bekerja dalam suatu tim

  2. Tingkat keterampilan yang ditentukan oleh pendidikan latihan dalam manajemen supervise serta keterampilan dalam tehnik industri

  3. Hubungan tenaga kerja dan pimpinan organisasi yang tercermin dalam usaha bersama antara pimpinan organisasi dan tenaga kerja untuk meningkatkan produktivitas melalui lingkaran pengawasan mutu (Quality control circles)

  4. Manajemen produktivitas, yaitu : manajemen yang efesien mengenai sumber dan sistem kerja untuk mencapai peningkatan produktivitas

  5. Efesiensi tenaga kerja, seperti : perencanaan tenaga kerja dan tambahan tugas.

  6. Kewiraswastaan, yang tercermin dalam pengambilan resiko, kreativitas dalam berusaha, dan berada dalam jalur yang benar dalam berusaha’

Disamping hal tersebut terdapat pula berbagai faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja, diantaranya adalah :

  1. Sikap mental, berupa

    1. Motivasi kerja

    2. Disiplin kerja

    3. Etika kerja

  1. Pendidikan

Pada umumnya orang yang memiliki pendidikan lebih tinggi akan mempunyai wawasan yang lebih luas terutama penghayatan akan arti pentingya produktivitas dapat mendorong pegawai yang bersangkutan melakukan tindakan yang produktif

  1. Keterampilan

Pada aspek tertentu apabila pegawai semakin terampil, maka akan lebih mampu bekerja serta menggunakan fasilitas kerja dengan baik. Pegawai akan lebih menjadi terampil apabila mempunyai kecakapan (Ability) dan pengalaman (Experience) yang cukup.

  1. Manajemen

Pengertian manajemen ini berkaitan dengan sistem yang dikaitkan oleh pimpinan untuk mengelola ataupun memimpin serta mengendalikan staf/bawahannya. Apabila manajemennya tepat akan menimbulkan semangat yang lebih tinggi sehingga dapat mendorong pegawai untuk melakukan tindakan yang produktif.

  1. Hubungan industrial pancasila

Dengan penerapan hubungan industrial pancasila, maka akan :

  1. Menciptakan ketenangan kerja dan memberikan motivasi kerja secara produktif sehingga produktifitas meningkat.

  2. Menciptakan hubungan kerja yang serasi dinamis sehingga menumbuhkan partisipasi dalam usaha meningkatkan produktivitas.

  3. Menciptakan harkat dan martabat pegawai sehingga mendorong diwujudkannya jiwa yang berdedikasi dalam upaya peningkatan produktivitas.

  1. Tingkat penghasilan

Apabila tingkat penghasilan memadai maka dapat menimbulkan konsentrasi kerja dan kemampuan yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas.

  1. Jaminan sosial

Jaminan sosial yang diberikan oleh suatu organisasi kepada pegawainya dimaksudkan untuk menigkatkan pengabdian dan semangat kerja. Apabila jaminan sosial pegawai mencukupi maka akan dapat menimbulkan kesenangan bekerja. Sehingga mendorong pemanfaatan kemampuan yang dimiliki untuk meningkatkan produktivitas kerja.

  1. Lingkungan dan iklim kerja

Lingkungan dan iklim yang kerja yang baik akan mendorong pegawai akan senang bekerja dan meningkatkan rasa tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan dengan lebih baik menuju kearah peningkatan produktivitas.

  1. Sarana produksi

Mutu sarana produksi sangat berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas. Apabila sarana produksi yang digunakan tidak baik kadang-kadang dapat menimbulkan pemborosan bahan yang dipakai.

  1. Teknologi

Apabila teknologi yang dipakai tepat dan tingkatannya maka akan memungkinkan

  1. Tepat waktu dalam penyelesaian proses produksi

  2. Jumlah produksi yang dihasilkan lebih banyak dan bermutu

  3. Memperkecil terjadinya pemborosan bahan sisa

Dengan memperhatikan hal termaksud, maka penerapan teknologi dapat mendukung peningkatan produktivitas.

  1. Kesempatan berprestasi

Pegawai yang bekerja tentu mengharapkan peningkatan karir atau pengembangan potensi yang pribadi yang nantinya akan bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi organisasi. Apabila terbuka kesempatan untuk berprestasi, maka akan menimbulkan psikologis untuk meningkatkan dedikasi serta pemanfaatan potensi yang dimiliki untuk meningkatkan produktivitas kerja.


Dari berbagai faktor produktivitas tersebut diatas, maka dapat diperjelas bahwa tiap-tiap faktor adalah saling mempengaruhi peningkatan produktivitas baik secara langsung maupun tidak langsung. Pendidika membentuk dan menambah pengetahuan seseorang untuk menambah pengetahuan seseorang untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih cepat dan lebih tepat. Latihan dan membentuk dan meningkatkan keterampilan kerja. Dengan demikian tingkat produktivitas kerja seseorang pegawai akan semakin tinggi pula.

READMORE....!!

Template by : kendhin x-template.blogspot.com